Sewaktu saya kecil, saya belajar mengenal Tuhan. Saya belajar bahwa Dia menyayangi manusia, sangat mencintai semua ciptaannya. Memang, dari kutipan-kutipan kitab suci yang saya pernah dengar, Tuhan kadangkala memberikan hukuman kepada kita, entah itu tulah, kutukan, bencana, atau apalah, sudah lama sekali saya tidak membaca atau mendengarkan kitab suci. Namun semua itu tidak pernah membuat saya berpikir bahwa Tuhan itu jahat dan menakutkan. Dalam proses mengenal Dia secara lebih dalam, saya belajar bahwa Dia ingin kita untuk juga mencintai Dirinya, dengan saling mencintai sesama, tidak menyakiti orang lain dan mau untuk berkorban bagi saudara-saudara yang membutuhkan kita, setiap pribadi tentu memiliki penafsiran sendiri tentang makna berkorban ini.
Selain itu saya juga belajar dari lingkungan bahwa semua agama itu sama pada dasarnya. Terlepas dari segala perbedaan didalam cara pendalaman dan ritual yang dilakukan pemeluknya, kita semua sama-sama rindu akan kehadiran Tuhan dalam diri kita. Keinginan untuk mengalami perasaan damai dan tenang, jauh dari perasaan bimbang dan khawatir karena ada Dia yang selalu dapat menjadi tempat kita bertumpu. Semua itulah yang menjadi motivasi semua manusia didalam menjalani agamanya. Mungkin saya salah, tapi itulah pemahaman saya tentang agama.
Dari semua ini, saya belajar bahwa agama mampu mendekatkan kita pada Tuhan. Tapi entah mengapa sejauh ini hanyalah kegundahan yang mengisi diri saya. Kegundahan yang muncul karena rasa kecewa, karena agama tidak lagi selalu membawa kita untuk mengenal Tuhan lebih dekat. Apa yang saya pelajari waktu kecil terasa tidak lagi seluruhnya benar, setidaknya itulah yang saya rasakan.
Submitted by carik on Sun, 12/27/2009 - 17:06.