Ya..ya... saya tahu kalau saya sebetulnya tidak pantas berbicara tentang paskah ini; seperti yang dikatakan seorang sahabat saya NMW, bahwa saya adalah mahluk yang inkosisten. Karena saya mengaku ingin meninggalkan agama, tapi frekuensi saya pergi ke gereja masih lebih sering dari dirinya. Karena saya berkata padanya bahwa agnosticism adalah media yang paling tepat bagi saya dalam membangun relasi dengan Tuhan, tapi saya masih menggunakan ”cara-cara katolik” didalam berkomunikasi dengan Nya.
Ya, saya didalam fase ”tidak ingin disebut sebagai seorang Katolik” untuk menghargai kawan-kawan yang telah sepenuh hati mencintai dan mendalami agama itu. Saya hanya seorang pribadi yang mengkritik agama-agama yang dengan semena-mena merasa Tuhan adalah milik mereka dan merasa hanya agamalah yang mampu menjadi penghubung kita dengan Tuhan; namun merasa kesulitan dengan tradisi agama yang telah mengakar kuat dalam dirinya....
Tapi ijinkan saya untuk mencoba memberi makna akan pekan suci ini dalam kehidupan saya. Jumat lalu, kita diingatkan kembali bagaimana Kristus wafat di kayu salib demi penebusan bagi kita semua, tanpa terkecuali. Dari prosesi ini, kita kembali belajar bahwa wafat Nya, yang diikuti oleh kebangkitanNya, merupakan wujud cinta Tuhan yang tak bersyarat kepada kita. Aah.. tentu kita sudah diajarkan dan memahami tentang ini sejak kita kecil; oleh orang tua kita, guru sekolah minggu atau guru agama di sekolah.
Tapi kita, terutama saya, seringkali melupakannya, bahwa cinta Tuhan yang tak bersyarat itu tidak hanya kita alami lebih dari 2000 tahun lalu dan kita kenang sekali dalam setahun. Kesibukan yang padat membuat kita sering tak menyadari bahwa kita selalu menerima cinta yang tak bersyarat dari Nya dalam keseharian kita; tidak hanya dari orang-orang dekat yang kita kenal dalam keseharian kita, tapi juga orang yang ”bersentuhan” dengan kita yang mungkin tidak pernah kita kenal dan jumpai sebelumnya.
Submitted by carik on Sat, 04/03/2010 - 23:08.