sebuah janji

Saat aku dalam sepi yang tak bertepi
Aku ingat hidupmu, yang menjalani tugas muliamu dalam kesederhanaan
Terkadang aku iri padamu,
yang telah memahami hidup ini dalam kebesaran Tuhan
Namun aku percaya,
aku akan mampu mengikutimu untuk mencapai kerendahan hati yang sejati

Saat ego mengintai seperti serigala kelaparan,
menungguku untuk terjatuh dalam emosi ini
Bayang-bayangmu terlintas dalam hatiku,
yang mengingatkan aku akan indahnya dunia,
di kala kita hidup dalam kemuliaan Nya
Dengan ketulusan hatimu dan juga rasa kasih sayangmu,
aku belajar akan makna rendah hati yang berpadu dalam kebijakan.

Terimakasih, kata itu lah yang ingin ku ucapkan kepadamu
Namun aku sadar,
kau mengharapkan lebih dari sekedar sebuah kata
karena itu aku berjanji padamu,
akan selalu berjuang untuk memberi arti dan makna dalam hidup ini

081208

Menjadi Tua

Ia hanyalah seorang bocah lelaki biasa yang hidup di sebuah kota kecil. Ia berasal dari sebuah keluarga yang sederhana; miskin tepatnya. Ia adalah anak keenam dari tujuh bersaudara; delapan bila si bungsu yang meninggal saat masih sangat kecil terhitung.

Bapaknya yang bijak dan dihormati di kampungnya hanyalah seorang tukang cuci pakaian sedangkan simbok kadangkala berjualan ayam potong untuk menambah uang belanja yang sering kali tak tercukupi oleh hasil kerja sang bapak. Empat kakaknya dititipkan kepada orang lain untuk diasuh, ia bersama seorang kakak lelaki dan adik perempuannya tetap tinggal bersama bapak dan simbok.

Ia menghabiskan masa kecil layaknya anak desa yang selalu merasa gembira walau berkekurangan. Simbok mengingatnya sebagai bocah kecil yang berguling-guling sambil menangis di gorong-gorong depan rumahnya saat ia merasa kesal atau marah.

Ia masih ingat bagaimana dia dan adik perempuannya rela untuk menahan kantuk disaat bapak pergi menghadiri pertemuan kampung karena itulah kesempatan mereka untuk menikmati secuil daging ayam yang terlalu mewah untuk santapan sehari-hari. Mereka dengan sabar menunggu kepulangan bapak yang membawakan 'nasi bancakan' untuk mereka. kedua anak kecil itu pun selalu berebut saat bapak mulai membuka bungkusan nasi yang mereka tunggu, namun ia memiliki cara untuk menikmati sepotong kecil ayam itu sendirian. Ia selalu mengambil potongan ayam itu dan menjilatinya sehingga si adik merasa jijik dan enggan menyentuhnya. Barulah dia dengan tenang menyantap nasi yang ada, berbagi dengan adiknya.

Vrolijk Pasen Allemal

Ya..ya... saya tahu kalau saya sebetulnya tidak pantas berbicara tentang paskah ini; seperti yang dikatakan seorang sahabat saya NMW, bahwa saya adalah mahluk yang inkosisten. Karena saya mengaku ingin meninggalkan agama, tapi frekuensi saya pergi ke gereja masih lebih sering dari dirinya. Karena saya berkata padanya bahwa agnosticism adalah media yang paling tepat bagi saya dalam membangun relasi dengan Tuhan, tapi saya masih menggunakan ”cara-cara katolik” didalam berkomunikasi dengan Nya.

Ya, saya didalam fase ”tidak ingin disebut sebagai seorang Katolik” untuk menghargai kawan-kawan yang telah sepenuh hati mencintai dan mendalami agama itu. Saya hanya seorang pribadi yang mengkritik agama-agama yang dengan semena-mena merasa Tuhan adalah milik mereka dan merasa hanya agamalah yang mampu menjadi penghubung kita dengan Tuhan; namun merasa kesulitan dengan tradisi agama yang telah mengakar kuat dalam dirinya....

Tapi ijinkan saya untuk mencoba memberi makna akan pekan suci ini dalam kehidupan saya. Jumat lalu, kita diingatkan kembali bagaimana Kristus wafat di kayu salib demi penebusan bagi kita semua, tanpa terkecuali. Dari prosesi ini, kita kembali belajar bahwa wafat Nya, yang diikuti oleh kebangkitanNya, merupakan wujud cinta Tuhan yang tak bersyarat kepada kita. Aah.. tentu kita sudah diajarkan dan memahami tentang ini sejak kita kecil; oleh orang tua kita, guru sekolah minggu atau guru agama di sekolah.

Tapi kita, terutama saya, seringkali melupakannya, bahwa cinta Tuhan yang tak bersyarat itu tidak hanya kita alami lebih dari 2000 tahun lalu dan kita kenang sekali dalam setahun. Kesibukan yang padat membuat kita sering tak menyadari bahwa kita selalu menerima cinta yang tak bersyarat dari Nya dalam keseharian kita; tidak hanya dari orang-orang dekat yang kita kenal dalam keseharian kita, tapi juga orang yang ”bersentuhan” dengan kita yang mungkin tidak pernah kita kenal dan jumpai sebelumnya.

Selamat Natal

Prihatin dengan dibutuhkannya ribuan personil polisi untuk mengamankan perayaan Natal ini, juga kepada saudara-saudara yang tidak bisa merayakan Natal sesuai dengan harapan mereka. Semoga di tahun-tahun kedepannya, toleransi dan keharmonisan antar umat beragam tidak sesemu sekarang.

Kegundahan.Selimuti.Suasana.Natal.di.Banyak.Negara

Syndicate content