Duka cita untuk Mezzanine

Mungkin untuk orang lain, berita tentang tenggelamnya M.V Mezzanine karena diterjang badai 'hanya' menjadi berita musibah 'biasa' dibandingkan musibah jatuhnya pesawat yg menewaskan puluhan bahkan ratusan orang. Tidak terlalu menarik perhatian orang banyak karena jumlah korban yg jauh lebih sedikit dan juga karena para korban adalah orang2 yg menyadari resiko dari pekerjaan yg mereka lakoni.

Suatu pekerjaan yang upahnya tidak sebanding dengan resiko yg dihadapi dan kebersamaan dengan keluarga yg telah dikorbankan oleh para pelaut tsb. Mungkin orang lain tidak menyadari bahwa para pelaut itu memiliki dua buah kesamaan; umumnya mereka berasal dari keluarga miskin dan juga tidak terlalu pintar (tentunya ada beberapa kasus khusus yg tidak memenuhi dua kesamaan tsb).

Tentu saja, apabila mereka memiliki uang atau berprestasi di bidang akademis, mereka pasti akan mencari pekerjaan lain yg jauh lebih baik daripada menjadi pelaut. Orang2 yg memutuskan untuk menjadi pelaut kebanyakan adalah orang2 yg berasal dari keluarga kurang mampu yg berusaha untuk memperbaiki nasib dengan mengadu peruntungan dalam mengarungi samudera. Mereka sadar, bahwa ada harga yang harus dibayarkan untuk itu; kebersamaan dengan orang2 yg disayangi.

Bagi keluarga pelaut, kegembiraan dan kekhawatiran menjadi dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Saat Bapak berada dirumah, gembira karena orang yg dicintai ada diantara mereka namun khawatir karena berarti tidak ada pemasukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saat bapak bekerja, gembira karena adanya pemasukan sehingga kebutuhan bisa terpenuhi namun khawatir dengan sesuatu yg mungkin bisa terjadi saat bapak ditengah laut, seperti apa yg terjadi dengan ABK dari Mezzanine tsb.

Gw cuma bisa berdoa agar ABK Mezzanine yg tidak dapat terselamatkan mendapat tempat yg baik di sisi Tuhan, mereka layak untuk itu karena mereka telah memberikan segalanya untuk orang2 yg mereka cintai.

Groningen, 1 Des 2007