God Jul

Sewaktu saya kecil, saya belajar mengenal Tuhan. Saya belajar bahwa Dia menyayangi manusia, sangat mencintai semua ciptaannya. Memang, dari kutipan-kutipan kitab suci yang saya pernah dengar, Tuhan kadangkala memberikan hukuman kepada kita, entah itu tulah, kutukan, bencana, atau apalah, sudah lama sekali saya tidak membaca atau mendengarkan kitab suci. Namun semua itu tidak pernah membuat saya berpikir bahwa Tuhan itu jahat dan menakutkan. Dalam proses mengenal Dia secara lebih dalam, saya belajar bahwa Dia ingin kita untuk juga mencintai Dirinya, dengan saling mencintai sesama, tidak menyakiti orang lain dan mau untuk berkorban bagi saudara-saudara yang membutuhkan kita, setiap pribadi tentu memiliki penafsiran sendiri tentang makna berkorban ini.

Selain itu saya juga belajar dari lingkungan bahwa semua agama itu sama pada dasarnya. Terlepas dari segala perbedaan didalam cara pendalaman dan ritual yang dilakukan pemeluknya, kita semua sama-sama rindu akan kehadiran Tuhan dalam diri kita. Keinginan untuk mengalami perasaan damai dan tenang, jauh dari perasaan bimbang dan khawatir karena ada Dia yang selalu dapat menjadi tempat kita bertumpu. Semua itulah yang menjadi motivasi semua manusia didalam menjalani agamanya. Mungkin saya salah, tapi itulah pemahaman saya tentang agama.

Dari semua ini, saya belajar bahwa agama mampu mendekatkan kita pada Tuhan. Tapi entah mengapa sejauh ini hanyalah kegundahan yang mengisi diri saya. Kegundahan yang muncul karena rasa kecewa, karena agama tidak lagi selalu membawa kita untuk mengenal Tuhan lebih dekat. Apa yang saya pelajari waktu kecil terasa tidak lagi seluruhnya benar, setidaknya itulah yang saya rasakan.

Saya bertanya, mengapa orang mampu menyakiti sesamanya dengan alasan membela agama dan tuhannya. Orang rela untuk menafsirkan agama bukan demi membuat dia lebih mengenal Tuhan tapi lebih untuk memberikan keuntungan bagi pribadi dan kepentingannya. Tentu saya bukanlah orang yang pertama yang mencoba mencari jawaban untuk pertanyaan ini: Mengapa orang sampai hati menghilangkan nyawa sesama, yang tentunya disayangi oleh Penciptanya, dengan beralasan bahwa mereka membela agamanya, juga tuhan yang mereka yang yakini? tentunya sudah banyak perdebatan dan diskusi mengenai hal ini. Namun saya belum menemukan jawaban yang dapat membuat hati saya memahami semua hal ini.

Pertentangan akan apa yang saya pelajari saat saya kecil dengan kenyataan yang terjadi saat ini membuat saya mempertanyakan keyakinan saya selama ini: bahwa agama akan mendekatkan kita pada Pencipta kita, memberikan kedamaian dan rasa kasih dalam hidup ini. Tentu saya tidak mengecilkan kenyataan bahwa sudah banyak karya kasih yang dilakukan oleh saudara-saudara kita yang termotivasi oleh agamanya sebagai bukti cinta sejati mereka pada Tuhan. Tapi semua karya kasih itu seperti tertutup oleh tindakan buruk segelintir fundamentalis yang secara mencolok mengangkat simbol2 agama mereka disaat melakukan tindakan yang bisa dibilang sangat jauh dari bentuk cinta terhadap Tuhan.

Semua ini membuat saya berpikir, atau lebih tepatnya merasa, bahwa agama mungkin malah menjauhkan diri saya dari Tuhan. Saya merasa bahwa tanpa agama saya dapat merasakan untuk lebih dekat pada Dia tanpa harus dibatasi oleh kekonyolan2 agama yang kadangkala jauh dari rasa kemanusiaan. Saya sadar mungkin saya salah, tapi hati saya tidak bisa lagi menerima sepenuhnya bahwa agama itu baik. Saya saat ini tidak merasa lagi bahwa agama adalah media yang tepat untuk menuntun saya mengenal Tuhan lebih baik. Sejujurnya saya tidak ingin seperti ini, tapi kiranya itulah yang saya rasakan saat ini.

Berulang kali muncul keinginan untuk sepenuhnya melepaskan diri dari agama ini, tapi saya mencoba untuk tidak menyerah karena dulu saya memilih agama saya dengan kesadaran pribadi. Tapi kiranya jalan hidup ini menuntun saya untuk memilih bahwa dengan melepas agama akan membuat saya merasa lebih dekat dengan Dia, saya akan menerimanya dengan sepenuh hati.

Kira-kira itulah yang saya rasakan dalam menyambut natal kali ini, tentunya natal juga memberikan semangat baru dalam diri untuk mencoba menciptakan kedamaian dalam jiwa dan juga sekitar kita. Saya juga ingin mengucapkan selamat natal pada teman-teman yang tentunya berusaha sebaik mungkin mempersiapkan diri dan hati menyambut kehadiran bayi Yesus dalam setiap orang. Setiap pribadi tentunya meresapi makna natal secara berbeda-beda. Tapi kiranya semua perenungan itu membawa kita ke satu tujuan yg sama: Tuhan yang selalu menyayangi kita.

Semoga akhir semangat natal dan keceriaan akhir tahun memberikan kita kegembiraan didalam menyambut tahun yang baru dengan segala rencana dan harapan kita.

God Jul och Gott Nytt År 2010

Uppsala 261209

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

More information about formatting options