Maaf, hari ini saya tidak memakai batik.

Sebagian besar dari kita yang membaca catatan ini tentunya tahu bahwa hari ini adalah hari yang bisa dianggap "agak istimewa" untuk Indonesia karena batik telah diakui secara resmi oleh dunia sebagai salah satu warisan budaya negara ini.

Sejak beberapa hari lalu, sudah banyak orang Indonesia ramai membicarakan "gerakan" serempak menggunakan batik di hari ini dalam rangka merayakan "pengakuan dunia" atas batik Indonesia. Ajakan untuk menggunakan batik didengungkan, baik secara formal maupun informal. Sebagian besar orang memberikan tanggapan positif, kita lihat bagaimana jakarta dan kota-kota lainnya hari ini diwarnai dengan berbagai macam corak batik dan juga saudara-saudari kita yang ada di berbagai belahan dunia turut mendukung dengan ikut serta menggunakan batik sambil memperkenalkan kepada teman-teman internasionalnya mengenai salah satu kekayaan bangsa ini.

Di satu sisi, tentu saya bangga dengan semangat saudara-saudara yang menanggapi secara positif hari yang "istimewa" ini, namun di sisi lain muncul juga kritikan mengenai fenomena dan euforia hari ini dalam diri saya. Hal ini bukan berarti saya antipati pada sikap masyarakat yang berbondong-bondong menggunakan batik, tetapi lebih untuk mencoba melihat secara kritis, dari pandangan pribadi saya, tentang peristiwa hari ini.

Saya melihat bahwa hebohnya perayaan pengakuan dunia akan batik ini tidak luput dari akibat konflik dengan negara tetangga mengenai klaim budaya yang bangsa ini miliki. Penetapan resmi UNESCO terasa seperti sebuah oase di gurun sahara, sebagai pelipur lara setelah bertubi-tubi mendengar berita mengenai berbagai macam kebudayaan kita diklaim Malaysia. Saya bertanya dalam diri saya, apabila hari ini yang diakui oleh UNESCO bukanlah batik melainkan kain ulos atau kekayaan budaya Indonesia lain yang tidak sedang coba diklaim negara lain, apakah perayaannya akan seperti hari ini? bukankah ulos juga merupakan kekayaan budaya kita.

Hal lain yang menjadi pertanyaan saya, apakah semua orang yang menggunakan batik hari ini sadar akan konsekuensi dari keputusan mereka untuk menggunakan batik secara serempak. Konsekuensi bahwa keputusan mereka ini hendaklah menjadi sikap awal mereka untuk secara konsisten merawat dan mengembangkan batik sebagai warisan budaya kita di masa depan.

Apakah setelah hari ini, acara-acara resepsi yang biasanya didominasi oleh gaun-gaun atau pakaian ala 'barat' mulai dipenuhi para undangan yang memilih menggunakan batik yang sangat kaya corak dan pilihannya itu.

Kiranya kita semua menyadari bahwa apabila hari ini kita menggunakan batik karena sekedar ikut-ikutan demi seremonial belaka tanpa memahami maksud dari penetapan ini, maka budaya batik akan terus mengalami kemunduran. Di tahun-tahun mendatang tanggal dua Oktober hanya akan menjadi hari seremonial belaka tanpa makna dan kita akan mempermalukan diri sendiri karena dianggap tidak becus merawat warisan budaya bangsa yang telah diakui secara resmi oleh dunia.

Atas dasar inilah saya memutuskan untuk tidak menggunakan batik hari ini. Tentunya banyak kawan yang memiliki pendapat yang berbeda dengan saya. Tujuan dari tulisan ini bukanlah untuk mengkritik sikap teman-teman yang merayakan hari batik ini, tulisan ini juga bukan untuk menyatakan bahwa sikap saya untuk tidak menggunakan batik merupakan hal yang lebih baik daripada teman-teman yang berpartisipasi dalam hari batik ini.

Tulisan ini dimaksudkan untuk bertanya pada kita semua, termasuk saya, apakah kita sudah benar-benar siap untuk merawat dan mengembangkan warisan budaya ini secara sungguh-sungguh?

021009

*turut menyampaikan duka cita yang mendalam bagi teman-teman yang memiliki anggota keluarga yang terkena gempa di Sumatra*

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

More information about formatting options