Masih Bisakah Kita Percaya pada Agama?

Waktu saya kecil dulu, saya diajarkan oleh guru-guru dan juga lingkungan bahwa setiap individu hendaknya memeluk dan menjalankan sebuah agama (yg diakui pemerintah). Mengapa? Karena dengan beragama kita percaya pada Tuhan dan orang yang percaya pada Dia adalah orang-orang baik. Hmm.. tidak ada yang salah dengan anggapan itu dan saya juga kira hal itu benar tentunya.

Saya tumbuh besar dengan orang tua yang berbeda agama, waktu kecil saya pernah sedikit “belajar” sholat dari bapak saya. Tapi karena bapak lebih sering berada di laut dan ibu menyekolahkan saya di sekolah katolik, saya memutuskan untuk menjadikan katolik sebagai agama saya. Saya belajar menjadi orang katolik dari lingkungan yang ada dan juga mencoba mengenal apa itu katolik sendiri.

Seiringnya perjalanan waktu, saya tumbuh dewasa dengan pergaulan yang lebih luas. Berkomunikasi dan berdiskusi dengan kawan tentang apa sebetulnya iman dan agama itu. Mungkin saya yang secara sukarela untuk “salah pergaulan” bergabung dengan orang-orang yang kecewa terhadap agama, tidak lagi percaya sepenuhnya terhadap ajaran yang katanya “dibuat” oleh Tuhan.

Saya pribadi mengalami kekecewaan pada agama, karena penyalahgunaan yang dilakukan manusia terhadap agama-agama itu sendiri. Tidak akan pernah hilang dari ingatan kita, bagaimana Vatican merestui penjajahan yang dilakukan oleh Spanyol dan Portugis di dunia baru ataupun para kardinal yang menggunakan berbagai cara untuk mengamankan kekuasaan mereka di jaman abad pertengahan di Eropa.

Belum lagi pengkastaan yang terjadi dalam agama hindu, walau seharusnya setiap manusia ada dalam posisi yang sama di mata Tuhan. Tak bisa kita ingkari juga, bagimana banyak kaum muslim ekstrim yang sebetulnya minoritas itu membuat keonaran dan penderitaan dengan mengatasnamakan Tuhan sebagai alasan mereka.

Saya belajar bahwa orang yang percaya Tuhan adalah orang yang cinta damai dan saling mengasihi. Namun kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya, agama menjadi alasan untuk menyakiti orang yang tak bersalah, agama menjadi dasar bagi kita untuk membenci orang lain yang tak sejalan dengan kita. Lalu dimanakah agama yang menyejukkan dan memberikan kita ketenangan jiwa itu?

Saya menjadi tidak percaya lagi sepenuhnya pada agama, bahwa agama mendekatkan diri kita pada Tuhan. Saya sadar bahwa kalau ada gedung yang kotor karena coret-coretan, bukan berarti kita harus menghancurkan dan membangunnya lagi untuk mendapatkan gedung yang kembali bersih. Tapi saya pribadi terlalu kecewa terhadap agama. Mungkin ini saatnya saya meruntuhkan apa yang saya pahami tentang Tuhan dan agamanya, kemudian membangun kembali pondasi yang kuat dan baik sehingga saya bisa belajar dari awal lagi tentang Tuhan yang sejati dan terlepas dari konsep-konsep yang dibuat agama.

Ya, saya masih seorang katolik, namun saya bukan lagi seorang katolik. Biarlah orang-orang lain menilai saya seorang yang kafir atau orang yang tidak berbudi. Namun saya hanyalah seorang yang rindu untuk mengenal Tuhan yang sejati, saya ingin belajar untuk mengenal Tuhan yang memberikan kedamaian bagi orang yang menyandarkan hidupnya pada Dia, dan bukan tuhan yang mengijinkan kita untuk membenci dan menyakiti orang lain.

Mungkin jalan yang saya pilih ini salah, namun saya percaya akan pilihan saya dengan segala konsekuensinya. Bila memang konsep akan neraka dan surga seperti yang diajarkan agama itu ada dan ternyata pilihan saya ini salah sehingga membawa saya ke neraka sedangkan surga hanya untuk para pemeluk agama saja, maka tolong sampaikan salam saya pada Tuhan. Tolong katakan pada Nya “Saya selalu mencintai Nya dengan tulus.”

121208

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

More information about formatting options