Menjadi Tua

Ia hanyalah seorang bocah lelaki biasa yang hidup di sebuah kota kecil. Ia berasal dari sebuah keluarga yang sederhana; miskin tepatnya. Ia adalah anak keenam dari tujuh bersaudara; delapan bila si bungsu yang meninggal saat masih sangat kecil terhitung.

Bapaknya yang bijak dan dihormati di kampungnya hanyalah seorang tukang cuci pakaian sedangkan simbok kadangkala berjualan ayam potong untuk menambah uang belanja yang sering kali tak tercukupi oleh hasil kerja sang bapak. Empat kakaknya dititipkan kepada orang lain untuk diasuh, ia bersama seorang kakak lelaki dan adik perempuannya tetap tinggal bersama bapak dan simbok.

Ia menghabiskan masa kecil layaknya anak desa yang selalu merasa gembira walau berkekurangan. Simbok mengingatnya sebagai bocah kecil yang berguling-guling sambil menangis di gorong-gorong depan rumahnya saat ia merasa kesal atau marah.

Ia masih ingat bagaimana dia dan adik perempuannya rela untuk menahan kantuk disaat bapak pergi menghadiri pertemuan kampung karena itulah kesempatan mereka untuk menikmati secuil daging ayam yang terlalu mewah untuk santapan sehari-hari. Mereka dengan sabar menunggu kepulangan bapak yang membawakan 'nasi bancakan' untuk mereka. kedua anak kecil itu pun selalu berebut saat bapak mulai membuka bungkusan nasi yang mereka tunggu, namun ia memiliki cara untuk menikmati sepotong kecil ayam itu sendirian. Ia selalu mengambil potongan ayam itu dan menjilatinya sehingga si adik merasa jijik dan enggan menyentuhnya. Barulah dia dengan tenang menyantap nasi yang ada, berbagi dengan adiknya.

Seperti anak lelaki lain, ia sangat senang bermain bola. Hampir setiap hari, selesai mengantarkan cucian bapak ke para pelanggan, ia pergi mengitari kota kecil itu untuk mencari kawan-kawannya yang mau diajak bermain bola. Hobi itulah yang membuat dia tidak naik kelas; dan ini adalah kali yang kedua. Masih jelas dalam ingatan, wajah sedih sang bapak yang dicintainya. Tak ada amarah yang keluar dari mulut bapak, hanya sebuah ungkapan kekecewaan; "kok ngene toh le..."

Semenjak itu ia berubah, sebagai bentuk penyesalan atas rasa kecewa yang telah ia goreskan dalam perasaan bapaknya. Ia menjadi murid yang rajin dan disaat ujian akhir sma ia berhasil meraih nilai sempurna untuk mata pelajaran ilmu ukur, tertinggi di kota kecil itu. Menjadi sebuah hal yang membanggakan dalam dirinya, kenangan manis yang tak pernah pudar hingga saat ini.

Namun keberhasilannya itu tak mampu membuat dirinya bisa menikmati pendidikan di perguruan tinggi. Bapak tak punya biaya dan kakak lelakinya yang sudah bekerja hanya mampu membiayai pendidikannnya di sekolah kejuruan. Maka pergilah dia ke kota besar yang tak jauh dari kampung halamannya. Disana ia bertemu dengan banyak kawan baru yang senasib dengannya.

Hirohito... itu adalah panggilan yang diberikan kawan-kawan kepadanya. Bukan karena dia putih seperti 'saudara tua' kita, atau karena wajahnya yang mirip seperti pria negeri sakura itu. Karena postur tubuhnya yang terpendek diantara mereka, julukan itu melekat pada dirinya.

Mereka melewati masa pendidikan dengan penuh rasa kebersamaan. Di akhir bulan, mereka bersepeda bersama pergi membeli bubur kacang hijau. Semangkuk bubur kacang hijau buah dari usaha mereka menyisihkan uang saku menjadi sebuah kemewahan yang dinikmati sekali dalam sebulan.

Pekerjaan membuat dia berada jauh dari orang-orang yang dicintai. Ia pergi meninggalkan masa kecilnya dengan harapan akan masa depan yang lebih cerah. Keberadaannya yang jauh dari keluarga seringkali memberikan kesedihan dalam dirinya.

Dia mengingat kepergian kedua orang yang paling dicintanya; "Menjelang Bapak meninggal, beliau terbaring lemah sambil menatap ke arah barat, seperti berharap akan kepulangan saya sehingga kami bisa bertemu untuk terakhir kalinya. Saya juga ingat di saat kepergian simbok, saya melihat dirinya dalam mimpi saya. Dia terlihat muda dan cantik."

Bukan suatu yang mudah bagi seorang anak, untuk melepas kepergian orang tuanya tanpa mampu mengucapkan selamat tinggal atau menghantar mereka ke peristirahatan terakhir. Namun ini adalah pengorbanan yang harus ia jalani demi kebahagiaan anak-anaknya. Ya, dia memiliki harapan agar anak-anaknya merasakan hidup yang jauh lebih baik darinya walau ada harga yang harus dibayarkan untuk semua itu; hanya sedikit waktu dalam hidupnya yang bisa ia lewati bersama dengan anak-anak kesayangannya.

Setiap kesempatan untuk berkumpul dengan anak-anaknya, ia gunakan dengan sebaiknya. Setiap malam, ia menemani anak-anaknya menjelang tidur. Ditengah kantuk yang menyelimuti, dia memenuhi keinginan anak bungsunya yang merengek kepadanya "Pak, ceritain...". Sambil tangannya yang kasar mengelus-elus punggung si bungsu, suaranya yang berat menahan kantuk pun mulai bercerita.


Si Kancil nyolong timun.
Di desa ada kancil yang suka nyolong timunnya pak tani. Pak tani nya kesal dan bikin perangkap buat si kancil. Suatu malam, si kancil yang sedang nyolong timun terkena perangkap itu. Pak tani senang dan membawanya pulang untuk dimasak.

Waktu pak tani sedang nyiapin bumbu-bumbu, anjingnya pak tani datang mendekati si kancil dan bertanya "eh kancil, ngapain kamu disitu?". "oh, tau ndak kamu, kalo aku disini karena mau dinikahkan dengan anaknya pak tani, dan dipestain." balas si kancil. Si kancil berkata lagi pada si anjing "kamu mau ndak dipestain, soalnya aku ndak mau dinikahkan dengan anaknya pak tani. Nanti kamu bakal dapat banyak makanan."

Si anjing yang tergiur oleh makanan lezat pun menyanggupinya dan membuka pintu perangkap sehingga mereka bisa bertukar tempat. Si kancil yang bebas dari perangkap segera kabur meninggalkan si anjing dan pak tani yang marah karena anjingnya melepaskan si kancil...

Itulah cerita yang dibacakannya setiap malam untuk menghantarkan si bungsu ke dunia mimpi. Cerita yang tak pernah bosan ia ucapkan setiap malam layaknya sebuah litani kudus yang didaraskan sebagai wujud cinta yang tak terucap untuk orang yang dikasihinya.

Si bungsu pun tak pernah merasa jenuh mendengar dongeng yang ia sudah hafal diluar kepala. Dia tahu, setelah beberapa malam mendengar suara bapak menceritakan dongeng kesayangannya maka dia akan merindukan suara itu untuk waktu yang lama.

Kini ia di masa senja nya, bersiap untuk meninggalkan pekerjaan yang telah menjadi bagian hidupnya lebih dari empat puluh tahun. Orang yang mengenal dia, menganggapnya sebagai seorang tua yang susah untuk diajak bicara dan enggan untuk mendengarkan perkataan orang lain. Mereka tidak mengerti, pekerjaannya membuat dia untuk sering berada didalam sebuah kesendirian yang berat untuk ia lalui. Pekerjaannya juga yang membuat dia sulit untuk mendengar dan memahami perkataan lawan bicaranya.

Dia menerima semua itu dengan lapang, sebagai sebuah suratan hidup yang dijalani dengan rasa tulus. Semua pengalaman yang berlalu membawa dia menjadi pribadi yang tak sempurna namun bijak dalam menyikapi hidup dan kini dia bersiap untuk menghabiskan hari-harinya bersama orang-orang yang dicintai.

~~~~~~~~

"Ah, ya, menjadi tua. Banyak peristiwa, banyak pilihan telah diambil, banyak kesalahan dilakukan, dan banyak kesempatan memperbaiki. Banyak kesempatan menjadi lebih arif, baik terhadap hidupnya sendiri maupun terhadap orang lain. Kemudian menjadi arif terhadap kekecewaan-kekecewaan yang pernah dia alami, terhadap penderitaan, sakit, bahkan stigma-stigma hidup yang dia terima. Menjadi penuh syukur ketika semua telah berlalu dan merasa mendapat ganjaran karena telah bersabar. Pengalaman hidupnya tergambar pada wajahnya." ~AB/71~

Uppsala 090410

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

More information about formatting options