Bukan hanya mereka yang menjadi korban

Setelah lelah membaca bahan untuk ujian minggu depan, sejenak saya mencoba melepas penat dengan membaca berita yang ada di kompas.com. Ada satu berita yang menarik perhatian saya; tentang 29 awak kapal yang ditahan di Singapura akibat masalah hutang perusahaan.

Mereka dipenjara dua tahun lalu dan sejak tiga bulan lalu perusahaan tidak lagi memberikan gaji mereka. Pemerintah pun tampaknya tidak ambil peduli dengan apa yang terjadi pada mereka. Tulisan lengkapnya disini

Penahanan 29 WNI di Singapura Diabaikan

orang lain mungkin menanggapi berita ini sebagai sesuatu yang biasa; ya, kita sudah terbiasa dengan sikap orang-orang yang berkuasa yang tidak peduli dengan segala macam yang terjadi pada rakyatnya, kecuali yang bersangkutan dengan kekuasaannya.

Bagi saya, seorang anak yang tumbuh besar tanpa pernah sepenuhnya mengenal bapak saya- satu dari banyak pekerja kasar yang harus pergi jauh meninggalkan keluarga demi rasa tanggung jawab terhadap orang yg dicintanya-, apa yang terjadi terhadap ke-29 abk itu membuat saya merasa ingin menangis.

Hidup sebagai keluarga pelaut bukanlah sesuatu yang mudah bagi kami; sesuatu yang mungkin tidak dirasakan oleh kebanyakan orang. Ke-29 orang itu adalah korban dari tindakan biadab para petinggi perusahaan pelayaran; tanpa perasaan membiarkan para pelaut itu menanggung akibat dari kesalahan yang mereka tidak lakukan.

Para binatang berdasi yang duduk di kursi empuk itu mungkin tidak menyadari bahwa bukan hanya pegawai yang mereka korbankan; tapi juga istri dan anak yang hidupnya bergantung pada sang kepala keluarga.

Saya hanya bisa berharap agar para keluarga pelaut itu tidak terlalu menderita hidupnya akibat kejadian ini dan semoga masalah ini cepat terselesaikan sehingga anak-anak mereka bisa berkumpul kembali dengan ayahnya tercinta

Uppsala 091010

Hei Nona Manis

Hei nona manis,
masih ingatkah nona akan diriku
tentang perjumpaan singkat kita di sore itu
mungkin nona sudah lupa, namun pertemuan itu membekas dalam hatiku

ketika aku sedang menunggu di salah satu sudut kota itu
ku lihat adikmu, seorang lelaki gagah dalam perawakan kecilnya;
berdiri tegap dengan karung besar dibahunya.

ia mencuri perhatianku, menggoda keingintahuanku akan apa yang ia lakukan di sana
Saat itulah aku melihatmu, muncul dari tempat sampah yang menghalangi pandanganku akan diri nona
kalian kembali berjalan, melewati kami- aku dan kakakku

aku terdiam melihat kalian berdua, berjalan bergandengan menjauhiku
ketika kakakku meminta untuk memberikan makanan yang kami bawa
aku meraih dua buah kotak kecil minuman dan satu plastik roti yang setengahnya sudah berpindah ke perut kami

aku berjalan mengejar nona dan mencoba menyapa nona
senyum lebar menghiasi wajah tampan adikmu saat tangan kecilnya menerima roti dan minuman itu
dan saat itulah aku mendengar suara indah nona
tak banyak, hanya satu kata terucap dari mulut mungilmu
Terima kasih...

Tahukah nona, aku tak pernah melupakan perkataanmu itu
sebuah ucapan tulus dan senyum manis dari nona yang sangat berarti untukku
bukan karena aku merasa telah berbuat kebaikan padamu
tapi karena aku disapa oleh Tuhan, melalui dirimu

~Kenangan akan dua pemulung kecil di kota Kupang, Feb 09~

Uppsala 040910

sebuah janji

Saat aku dalam sepi yang tak bertepi
Aku ingat hidupmu, yang menjalani tugas muliamu dalam kesederhanaan
Terkadang aku iri padamu,
yang telah memahami hidup ini dalam kebesaran Tuhan
Namun aku percaya,
aku akan mampu mengikutimu untuk mencapai kerendahan hati yang sejati

Saat ego mengintai seperti serigala kelaparan,
menungguku untuk terjatuh dalam emosi ini
Bayang-bayangmu terlintas dalam hatiku,
yang mengingatkan aku akan indahnya dunia,
di kala kita hidup dalam kemuliaan Nya
Dengan ketulusan hatimu dan juga rasa kasih sayangmu,
aku belajar akan makna rendah hati yang berpadu dalam kebijakan.

Terimakasih, kata itu lah yang ingin ku ucapkan kepadamu
Namun aku sadar,
kau mengharapkan lebih dari sekedar sebuah kata
karena itu aku berjanji padamu,
akan selalu berjuang untuk memberi arti dan makna dalam hidup ini

081208

Menjadi Tua

Ia hanyalah seorang bocah lelaki biasa yang hidup di sebuah kota kecil. Ia berasal dari sebuah keluarga yang sederhana; miskin tepatnya. Ia adalah anak keenam dari tujuh bersaudara; delapan bila si bungsu yang meninggal saat masih sangat kecil terhitung.

Bapaknya yang bijak dan dihormati di kampungnya hanyalah seorang tukang cuci pakaian sedangkan simbok kadangkala berjualan ayam potong untuk menambah uang belanja yang sering kali tak tercukupi oleh hasil kerja sang bapak. Empat kakaknya dititipkan kepada orang lain untuk diasuh, ia bersama seorang kakak lelaki dan adik perempuannya tetap tinggal bersama bapak dan simbok.

Ia menghabiskan masa kecil layaknya anak desa yang selalu merasa gembira walau berkekurangan. Simbok mengingatnya sebagai bocah kecil yang berguling-guling sambil menangis di gorong-gorong depan rumahnya saat ia merasa kesal atau marah.

Ia masih ingat bagaimana dia dan adik perempuannya rela untuk menahan kantuk disaat bapak pergi menghadiri pertemuan kampung karena itulah kesempatan mereka untuk menikmati secuil daging ayam yang terlalu mewah untuk santapan sehari-hari. Mereka dengan sabar menunggu kepulangan bapak yang membawakan 'nasi bancakan' untuk mereka. kedua anak kecil itu pun selalu berebut saat bapak mulai membuka bungkusan nasi yang mereka tunggu, namun ia memiliki cara untuk menikmati sepotong kecil ayam itu sendirian. Ia selalu mengambil potongan ayam itu dan menjilatinya sehingga si adik merasa jijik dan enggan menyentuhnya. Barulah dia dengan tenang menyantap nasi yang ada, berbagi dengan adiknya.

Syndicate content