Selamat Natal

Prihatin dengan dibutuhkannya ribuan personil polisi untuk mengamankan perayaan Natal ini, juga kepada saudara-saudara yang tidak bisa merayakan Natal sesuai dengan harapan mereka. Semoga di tahun-tahun kedepannya, toleransi dan keharmonisan antar umat beragam tidak sesemu sekarang.

Kegundahan.Selimuti.Suasana.Natal.di.Banyak.Negara

Polemik Ujian Nasional yang Tak Kunjung Berakhir

Ujian Nasional masih menjadi isu hangat setiap tahunnya. Perdebatan mengenai UN ini akan tetap menjadi masalah yang tak berujung apabila sang pemegang kebijakan, dalam hal ini adalah Depdiknas, enggan untuk bersungguh-sungguh mencari solusi atas permasalahan standardisasi pendidikan nasional ini.

St. Kartono dalam sebuah tulisannya di media Kompas mengajukan beberapa poin yang harus diperhatikan Depdiknas sebelum memaksakan keinginannya untuk meneruskan standard evaluasi melalu UN.

Ada beberapa tahapan yang harus dipenuhi sebelum pemerintah melaksanakan standardisasi penilaian yang masih mengundang polemik ini. St. Kartono mengungkapkan bahwa ada tujuh aspek standardisasi dalam pendidikan nasional yang harus terpenuhi terlebih dahulu sebelum standardisasi evaluasi dapat dilakukan. Berikut adalah kutipan mengenai tujuh aspek standardisasi yang disebutkan oleh St. Kartono:

"Standar nasional pendidikan di negeri ini mensyaratkan adanya standar isi, proses, pendidik, sarana, pengelolaan, dan pembiayaan, sebelum akhirnya berbicara tentang standar penilaian (evaluasi) pendidikan."

Kiranya Pemerintah mau mengakui kegagalannya didalam memenuhi standarisasi ketujuh aspek tersebut dan bergerak cepat mengatasi masalah ini. Banyak PR yang harus diselesaikan oleh Depdiknas didalam meningkatkan kualitas pendidikan generasi penerus bangsa ini daripada berkeras kepala memaksakan standardisasi evaluasi yang mengundang polemik dan tidak pernah menyentuh inti masalah pendidikan nasional bangsa Indonesia.

Tulisan lengkap St. Kartono dapat dibaca di link berikut ini:

stop.ujian.nasional.perbaiki.sekolah.rusak-st.kartono.

Maaf, hari ini saya tidak memakai batik.

Sebagian besar dari kita yang membaca catatan ini tentunya tahu bahwa hari ini adalah hari yang bisa dianggap "agak istimewa" untuk Indonesia karena batik telah diakui secara resmi oleh dunia sebagai salah satu warisan budaya negara ini.

Sejak beberapa hari lalu, sudah banyak orang Indonesia ramai membicarakan "gerakan" serempak menggunakan batik di hari ini dalam rangka merayakan "pengakuan dunia" atas batik Indonesia. Ajakan untuk menggunakan batik didengungkan, baik secara formal maupun informal. Sebagian besar orang memberikan tanggapan positif, kita lihat bagaimana jakarta dan kota-kota lainnya hari ini diwarnai dengan berbagai macam corak batik dan juga saudara-saudari kita yang ada di berbagai belahan dunia turut mendukung dengan ikut serta menggunakan batik sambil memperkenalkan kepada teman-teman internasionalnya mengenai salah satu kekayaan bangsa ini.

Di satu sisi, tentu saya bangga dengan semangat saudara-saudara yang menanggapi secara positif hari yang "istimewa" ini, namun di sisi lain muncul juga kritikan mengenai fenomena dan euforia hari ini dalam diri saya. Hal ini bukan berarti saya antipati pada sikap masyarakat yang berbondong-bondong menggunakan batik, tetapi lebih untuk mencoba melihat secara kritis, dari pandangan pribadi saya, tentang peristiwa hari ini.

Saya melihat bahwa hebohnya perayaan pengakuan dunia akan batik ini tidak luput dari akibat konflik dengan negara tetangga mengenai klaim budaya yang bangsa ini miliki. Penetapan resmi UNESCO terasa seperti sebuah oase di gurun sahara, sebagai pelipur lara setelah bertubi-tubi mendengar berita mengenai berbagai macam kebudayaan kita diklaim Malaysia. Saya bertanya dalam diri saya, apabila hari ini yang diakui oleh UNESCO bukanlah batik melainkan kain ulos atau kekayaan budaya Indonesia lain yang tidak sedang coba diklaim negara lain, apakah perayaannya akan seperti hari ini? bukankah ulos juga merupakan kekayaan budaya kita.

Nderek Dewi Maria

Selamat menjalani bulan Rosario, semoga berkah dalem selalu menyertai kita dalam setiap usaha memberikan makna dan arti hidup ini.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

NDèrèk Dewi Maria, tamtu geng kang manah.
mBoten yèn kuwatosa, ibu njangkung tansah.
Kanjeng Ratu ing swarga amba sumarah samya.
Sang Dewi, Sang Dewi mangèstunana,
Sang Dewi, Sang Dewi mangèstunana.

Nadyan manah getera, dipun goda sètan,
nanging batos èngetnya, wonten pitulungan.
Wit Sang Putri Maria, mangsa tèga anilar.
Sang Dewi, Sang Dewi mangèstunana,
Sang Dewi, Sang Dewi mangèstunana.

Menggah saking apèsnya ngantos kèlu sètan.
mBoten yèn ta ngantosa klantur babar pisan.
Ugeripun nyenyuwun Ibu tamtu tetulung.
Sang Dewi, Sang Dewi mangèstonana,
Sang Dewi, Sang Dewi mangèstonana.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Meneladan Maria, hati ‘kan gembira
tidak akan kecewa, ibu ‘kan bersama
ya Maria, ratu surga, kami menyerah semua
O ibu, o ibu, tolonglah kami (2x)

Walau hati tertekan digodai setan
Tapi kami percaya akan pertolongan
kar’na ibu Maria akan beserta kita
O ibu, o ibu, tolonglah kami (2x)

Jika kar’na lemahnya dicobai setan
Tidak akan khawatir akan pertolongan
asal kita meminta, ibu akan terbuka
O ibu, o ibu, tolonglah kami (2x)

Syndicate content