Vrolijk Pasen Allemal

Ya..ya... saya tahu kalau saya sebetulnya tidak pantas berbicara tentang paskah ini; seperti yang dikatakan seorang sahabat saya NMW, bahwa saya adalah mahluk yang inkosisten. Karena saya mengaku ingin meninggalkan agama, tapi frekuensi saya pergi ke gereja masih lebih sering dari dirinya. Karena saya berkata padanya bahwa agnosticism adalah media yang paling tepat bagi saya dalam membangun relasi dengan Tuhan, tapi saya masih menggunakan ”cara-cara katolik” didalam berkomunikasi dengan Nya.

Ya, saya didalam fase ”tidak ingin disebut sebagai seorang Katolik” untuk menghargai kawan-kawan yang telah sepenuh hati mencintai dan mendalami agama itu. Saya hanya seorang pribadi yang mengkritik agama-agama yang dengan semena-mena merasa Tuhan adalah milik mereka dan merasa hanya agamalah yang mampu menjadi penghubung kita dengan Tuhan; namun merasa kesulitan dengan tradisi agama yang telah mengakar kuat dalam dirinya....

Tapi ijinkan saya untuk mencoba memberi makna akan pekan suci ini dalam kehidupan saya. Jumat lalu, kita diingatkan kembali bagaimana Kristus wafat di kayu salib demi penebusan bagi kita semua, tanpa terkecuali. Dari prosesi ini, kita kembali belajar bahwa wafat Nya, yang diikuti oleh kebangkitanNya, merupakan wujud cinta Tuhan yang tak bersyarat kepada kita. Aah.. tentu kita sudah diajarkan dan memahami tentang ini sejak kita kecil; oleh orang tua kita, guru sekolah minggu atau guru agama di sekolah.

Tapi kita, terutama saya, seringkali melupakannya, bahwa cinta Tuhan yang tak bersyarat itu tidak hanya kita alami lebih dari 2000 tahun lalu dan kita kenang sekali dalam setahun. Kesibukan yang padat membuat kita sering tak menyadari bahwa kita selalu menerima cinta yang tak bersyarat dari Nya dalam keseharian kita; tidak hanya dari orang-orang dekat yang kita kenal dalam keseharian kita, tapi juga orang yang ”bersentuhan” dengan kita yang mungkin tidak pernah kita kenal dan jumpai sebelumnya.

Selamat Natal

Prihatin dengan dibutuhkannya ribuan personil polisi untuk mengamankan perayaan Natal ini, juga kepada saudara-saudara yang tidak bisa merayakan Natal sesuai dengan harapan mereka. Semoga di tahun-tahun kedepannya, toleransi dan keharmonisan antar umat beragam tidak sesemu sekarang.

Kegundahan.Selimuti.Suasana.Natal.di.Banyak.Negara

Polemik Ujian Nasional yang Tak Kunjung Berakhir

Ujian Nasional masih menjadi isu hangat setiap tahunnya. Perdebatan mengenai UN ini akan tetap menjadi masalah yang tak berujung apabila sang pemegang kebijakan, dalam hal ini adalah Depdiknas, enggan untuk bersungguh-sungguh mencari solusi atas permasalahan standardisasi pendidikan nasional ini.

St. Kartono dalam sebuah tulisannya di media Kompas mengajukan beberapa poin yang harus diperhatikan Depdiknas sebelum memaksakan keinginannya untuk meneruskan standard evaluasi melalu UN.

Ada beberapa tahapan yang harus dipenuhi sebelum pemerintah melaksanakan standardisasi penilaian yang masih mengundang polemik ini. St. Kartono mengungkapkan bahwa ada tujuh aspek standardisasi dalam pendidikan nasional yang harus terpenuhi terlebih dahulu sebelum standardisasi evaluasi dapat dilakukan. Berikut adalah kutipan mengenai tujuh aspek standardisasi yang disebutkan oleh St. Kartono:

"Standar nasional pendidikan di negeri ini mensyaratkan adanya standar isi, proses, pendidik, sarana, pengelolaan, dan pembiayaan, sebelum akhirnya berbicara tentang standar penilaian (evaluasi) pendidikan."

Kiranya Pemerintah mau mengakui kegagalannya didalam memenuhi standarisasi ketujuh aspek tersebut dan bergerak cepat mengatasi masalah ini. Banyak PR yang harus diselesaikan oleh Depdiknas didalam meningkatkan kualitas pendidikan generasi penerus bangsa ini daripada berkeras kepala memaksakan standardisasi evaluasi yang mengundang polemik dan tidak pernah menyentuh inti masalah pendidikan nasional bangsa Indonesia.

Tulisan lengkap St. Kartono dapat dibaca di link berikut ini:

stop.ujian.nasional.perbaiki.sekolah.rusak-st.kartono.

Maaf, hari ini saya tidak memakai batik.

Sebagian besar dari kita yang membaca catatan ini tentunya tahu bahwa hari ini adalah hari yang bisa dianggap "agak istimewa" untuk Indonesia karena batik telah diakui secara resmi oleh dunia sebagai salah satu warisan budaya negara ini.

Sejak beberapa hari lalu, sudah banyak orang Indonesia ramai membicarakan "gerakan" serempak menggunakan batik di hari ini dalam rangka merayakan "pengakuan dunia" atas batik Indonesia. Ajakan untuk menggunakan batik didengungkan, baik secara formal maupun informal. Sebagian besar orang memberikan tanggapan positif, kita lihat bagaimana jakarta dan kota-kota lainnya hari ini diwarnai dengan berbagai macam corak batik dan juga saudara-saudari kita yang ada di berbagai belahan dunia turut mendukung dengan ikut serta menggunakan batik sambil memperkenalkan kepada teman-teman internasionalnya mengenai salah satu kekayaan bangsa ini.

Di satu sisi, tentu saya bangga dengan semangat saudara-saudara yang menanggapi secara positif hari yang "istimewa" ini, namun di sisi lain muncul juga kritikan mengenai fenomena dan euforia hari ini dalam diri saya. Hal ini bukan berarti saya antipati pada sikap masyarakat yang berbondong-bondong menggunakan batik, tetapi lebih untuk mencoba melihat secara kritis, dari pandangan pribadi saya, tentang peristiwa hari ini.

Saya melihat bahwa hebohnya perayaan pengakuan dunia akan batik ini tidak luput dari akibat konflik dengan negara tetangga mengenai klaim budaya yang bangsa ini miliki. Penetapan resmi UNESCO terasa seperti sebuah oase di gurun sahara, sebagai pelipur lara setelah bertubi-tubi mendengar berita mengenai berbagai macam kebudayaan kita diklaim Malaysia. Saya bertanya dalam diri saya, apabila hari ini yang diakui oleh UNESCO bukanlah batik melainkan kain ulos atau kekayaan budaya Indonesia lain yang tidak sedang coba diklaim negara lain, apakah perayaannya akan seperti hari ini? bukankah ulos juga merupakan kekayaan budaya kita.

Syndicate content