Vrolijk Pasen Allemal

Ya..ya... saya tahu kalau saya sebetulnya tidak pantas berbicara tentang paskah ini; seperti yang dikatakan seorang sahabat saya NMW, bahwa saya adalah mahluk yang inkosisten. Karena saya mengaku ingin meninggalkan agama, tapi frekuensi saya pergi ke gereja masih lebih sering dari dirinya. Karena saya berkata padanya bahwa agnosticism adalah media yang paling tepat bagi saya dalam membangun relasi dengan Tuhan, tapi saya masih menggunakan ”cara-cara katolik” didalam berkomunikasi dengan Nya.

Ya, saya didalam fase ”tidak ingin disebut sebagai seorang Katolik” untuk menghargai kawan-kawan yang telah sepenuh hati mencintai dan mendalami agama itu. Saya hanya seorang pribadi yang mengkritik agama-agama yang dengan semena-mena merasa Tuhan adalah milik mereka dan merasa hanya agamalah yang mampu menjadi penghubung kita dengan Tuhan; namun merasa kesulitan dengan tradisi agama yang telah mengakar kuat dalam dirinya....

Tapi ijinkan saya untuk mencoba memberi makna akan pekan suci ini dalam kehidupan saya. Jumat lalu, kita diingatkan kembali bagaimana Kristus wafat di kayu salib demi penebusan bagi kita semua, tanpa terkecuali. Dari prosesi ini, kita kembali belajar bahwa wafat Nya, yang diikuti oleh kebangkitanNya, merupakan wujud cinta Tuhan yang tak bersyarat kepada kita. Aah.. tentu kita sudah diajarkan dan memahami tentang ini sejak kita kecil; oleh orang tua kita, guru sekolah minggu atau guru agama di sekolah.

Tapi kita, terutama saya, seringkali melupakannya, bahwa cinta Tuhan yang tak bersyarat itu tidak hanya kita alami lebih dari 2000 tahun lalu dan kita kenang sekali dalam setahun. Kesibukan yang padat membuat kita sering tak menyadari bahwa kita selalu menerima cinta yang tak bersyarat dari Nya dalam keseharian kita; tidak hanya dari orang-orang dekat yang kita kenal dalam keseharian kita, tapi juga orang yang ”bersentuhan” dengan kita yang mungkin tidak pernah kita kenal dan jumpai sebelumnya.

Momen paskah ini tentunya merupakan saat yang tepat bagi setiap pribadi untuk merenungkan kembali bagaimana kita memaknai pengorbanan Kristus dalam hidup kita. Kiranya kita mau mencoba untuk membuat paskah tidaklah sekadar ritual tahunan yang segera dilupakan setelah berlalu, tapi membuat momen paskah ini sebagai langkah awal untuk menghadirkan paskah dalam diri kita setiap harinya; meneladani wafat Kristus dengan menghadirkan cinta yang tak bersyarat dalam diri kita kepada orang-orang di sekitar kita.

Hmm.. ini hanyalah perenungan singkat saya. Saya sadar bahwa bicara lebih mudah daripada melakukannya, tapi kiranya kita mau mencoba untuk menghidupkan semangat pengorbanan paskah dalam hati kita dan tidak menjadikannya sebagai sebuah ritual yang mati, tanpa nyawa...

Sebagai tambahan, saya tuliskan kembali cerita pengalaman yang dibuat seorang kenalan untuk sebuah milis; tentang cinta yang tak bersyarat (menurut saya :D).

------------------------------------------------------
Saya tidak hendak langsung menanggapi permasalahan yang terlontar, namun saya hanya akan membagikan sedikit pengalaman saya berikut. Bulan september yang lalu, saya jagong manten di Solo dengan mengendarai vespa setengah butut saya. Pulangnya, tepat di jalan raya Klaten itu vespa saya mogok untuk yang kesekian kalinya. Kebetulan itu adalah hari minggu, sehingga sangat sulit bagi orang asing di kota itu untuk menemukan bengkel. Saya coba kutak-kutik sendiri, dan tidak berhasil sehingga saya tuntun vespa tersebut menyusuri jalanan panjang hingga sampai didepan kompleks toko matahari.

Saat itu kira-kira pukul 13.00 dan panasnya membuat saya untuk sejenak istirahat di bawah pohon yang tidak rindang sambil coba bongkar lagi karburatornya. Tanpa diduga dan tanpa saya harapkan sebelumnya, ibu tua yang menjual pakaian rombengan dan seorang ibu yang kebih muda yang menerima jual beli emas yang biasa mangkal di pinggir jalan, menghampiri saya dan menawari mengaso di tenda mereka. Setelah itu ibu tua tersebut memanggil tukang becak untuk membantu saya dan bahkan saat itu menyerahkan uang Rp.10.000,00 kepada tukang becak tersebut untuk membeli busi yang baru kendati saya telah katakan bahwa busi bukanlah penyebab kemacetan. Setelah busi saya pasang dan uang saya kembalikan, memang vespa bisa hidup dan jalan, namun tidak lama. Vespa mati persis didepan bengkel di depan bendogantungan.

Sesampai di jogja, saya mendapat permintaan tolong untuk memperbaiki PC seseorang di Condong catur. Setelah beres, saya kembali ke rumah dan di depan realino, ban vespa kena paku. Saya glimpangkan di regol realino itu, dan saya coba mencari ganjel untuk mempermudah mengganti ban yang bocor. Tanpa diduga bapak satpam realino itu mencarikan ganjel dan membantu mengganti ban vespa tersebut. Beliau tidak tahu siapa saya, dan hanya bertanya di mana rumahnya. Setelah selesai, beliau menuntun saya untuk membersihkan tangan yang kotor dan menyodorkan lap untuk mengeringkan tangan saya.

Dari dua pengalaman itu saya merasa diajar oleh Tuhan sendiri tentang makna dan misteri cinta. Dari ibu-ibu tua yang di pinggir jalan di Klaten, saya merasakan nafas Maria disana. Dari tangan-tangan kekar bapak satpam, saya merasakan getar tangan santo Yosep disana. Mungkin ini terkesan terlalu romantis. Namun itulah sebuah pengalaman.

Justru dengan bersentuhan dengan orang lain, saya seringkali belajar memahami dan ”mengetahui” diri saya dengan segala kerapuhan dan kekuatannya, belajar mencintai dalam arti yang seluas-luasnya. Saya yakin bahwa baik ibu di Klaten maupun bapak satpam itu tidak mengharap balasan dari saya.

Sebab cinta bukanlah transaksi kebaikan

GLAD PÅSK ALLA!

Uppsala 030410

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

More information about formatting options